Latar Belakang Kekurangan Guru di Sekolah Dasar
Indonesia menghadapi masalah serius terkait
pemerataan guru, terutama di daerah pedesaan atau wilayah terpencil.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terdapat
ketidakseimbangan dalam distribusi guru di berbagai daerah yang menyebabkan
sebagian sekolah kekurangan guru, sementara di tempat lain, jumlah guru justru
berlebih. Ambil saja contoh di Provinsi Jawa Timur. Hasil olah data dari
Dapodik, terdapat 272 Sekolah Dasar dengan kondisi siswa kurang dari 30 anak
dan guru kurang dari 5 orang. Sebanyak 189 sekolah berstatus negeri dan 83
sekolah berstatus swasta. Total keseluruhan guru dari 272 sekolah tersebut
sebanyak 1,046 orang (Sumber; Dapodik pertanggal 12-03-2025). Gambaran data
dapat dilihat dari grafik dibawah ini.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa
meskipun jumlah sekolah dasar di Indonesia cukup banyak, distribusi guru di
beberapa wilayah masih sangat terbatas. Misalnya, di daerah dengan kepadatan
penduduk yang tinggi, banyak sekolah yang mengalami kekurangan guru dalam
bidang studi tertentu, seperti matematika, sains, dan bahasa Inggris. Hal
ini menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan,
karena kekurangan guru dapat mengganggu proses pembelajaran yang efektif dan
mempengaruhi prestasi siswa.
Kekurangan guru ini
tidak hanya disebabkan oleh masalah jumlah, tetapi juga oleh distribusi guru
yang tidak merata. Salah satu solusinya adalah melalui model pembelajaran
kelas rangkap (multigrade), yang memungkinkan satu guru untuk mengajar lebih
dari satu jenjang kelas dalam waktu yang bersamaan. Model pembelajaran ini juga menjadi salah satu alternatif yang direkomendasikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah seperti yang termaktub dalam Permendikbud Nomor 47 Tahun 2023 Tentang Standar Pengelolaan Satuan Pendidikan PAUD, Dasar dan Menengah tepatnya pada Pasal 10 ayat (4) disebutkan "dalam hal terdapat keterbatasan ketersediaan pendidik, kebutuhan jumlah pendidik direncanakan berdasarkan pelaksanaan kelas rangkap pada sekolah dasar/Madrasah Ibtidaiyah". Model ini dapat menjadi solusi
yang efektif, meskipun juga memerlukan pengelolaan yang cermat untuk
memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga.
Model Pembelajaran Kelas Rangkap: Konsep dan Definisi
Model pembelajaran kelas rangkap merupakan
suatu model pembelajaran di mana seorang guru mengelola lebih dari satu kelas
dalam waktu yang bersamaan atau dalam satu ruang kelas yang sama. Dalam
konteks sekolah dasar, model ini sangat berguna ketika ada kekurangan guru,
baik dari segi jumlah maupun spesialisasi mata pelajaran. Pembelajaran kelas
rangkap memberikan kesempatan bagi satu guru untuk mengajar dua atau lebih
kelas dengan menggunakan metode dan pendekatan tertentu yang memungkinkan
siswa tetap mendapatkan pembelajaran yang efektif.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2018), pembelajaran kelas
rangkap dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memungkinkan guru
untuk mengelola lebih dari satu kelas dengan cara yang terstruktur dan
terorganisir. Wibowo menjelaskan bahwa model ini bertujuan untuk memaksimalkan
penggunaan tenaga pengajar dalam menghadapi kekurangan guru yang terjadi di
banyak sekolah. Guru perlu memiliki keterampilan manajerial yang baik agar
dapat mengelola dua atau lebih kelas dalam satu waktu dengan tetap menjaga
kualitas pembelajaran.
Dalam penerapan
model ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, guru harus dapat
membagi perhatian dengan efektif antara dua atau lebih kelompok siswa yang
berbeda. Kedua, materi ajar harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman
masing-masing kelompok siswa. Ketiga, teknik pengajaran yang digunakan harus
cukup fleksibel agar dapat diterapkan pada beberapa kelompok siswa
sekaligus.
Telah banyak hasil-hasil
penelitian terkait dengan model pembelajaran kelas rangkap. Hasil penelitian
Rahmawati tahun 2019 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dapat meningkat
dengan penerapan pembelajaran kelas rangkap yang terencana. Setiawan (2021)
menyatakan bahwa inovasi dalam pembelajaran sangat penting untuk menciptakan
lingkungan belajar yang dinamis. Tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran
kelas rangkap, seperti pengelolaan kelas, diungkapkan oleh Pratiwi (2022),
yang menyarankan solusi praktis untuk mengatasi masalah tersebut. Widiastuti
(2020) menekankan bahwa pembelajaran kelas rangkap bisa menjadi alternatif
yang layak, terutama di daerah terpencil. Kurniawan (2021) meneliti
efektivitas metode ini dan menemukan bahwa siswa dapat belajar dengan baik
meskipun dalam kelas yang terintegrasi. Lestari (2019) mengemukakan bahwa
model pembelajaran ini dapat diterapkan di berbagai konteks pendidikan,
termasuk di daerah yang kurang terjangkau. Terakhir, Maulana (2020) menyoroti
pentingnya kebijakan pendidikan yang mendukung implementasi pembelajaran kelas
rangkap untuk meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.
Manfaat Model Pembelajaran Kelas Rangkap
Terdapat banyak manfaat yang bisa diperoleh
dengan penerapan model pembelajaran kelas rangkap, di antaranya: (1) efisiensi
penggunaan tenaga pengajar. Salah satu keuntungan utama dari model
pembelajaran kelas rangkap adalah efisiensi dalam penggunaan tenaga pengajar.
Dengan model ini, satu guru dapat mengajar dua atau lebih kelas, sehingga
dapat mengurangi kekurangan tenaga pengajar yang ada di sekolah. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Hasan (2019), efisiensi pengelolaan waktu dan
sumber daya ini menjadi sangat penting, terutama di sekolah-sekolah yang
memiliki jumlah guru terbatas. Ini memungkinkan sekolah untuk mengelola proses
pembelajaran dengan lebih optimal, meskipun terbatas oleh jumlah guru yang
ada. (2) mengurangi beban kerja guru. Beban kerja guru menjadi salah satu
masalah yang sering dihadapi oleh tenaga pengajar di sekolah dasar. Dengan
adanya model pembelajaran kelas rangkap, meskipun seorang guru mengajar lebih
dari satu kelas, ia tetap dapat mengatur waktu dan pembelajaran untuk setiap
kelas secara terorganisir. Hal ini bisa mengurangi tekanan yang dirasakan guru
karena memiliki tanggung jawab yang lebih besar. (3) peningkatan keterampilan
manajerial guru. Mengelola dua atau lebih kelas sekaligus akan meningkatkan
keterampilan manajerial guru. Guru harus mampu membagi perhatian, mengelola
waktu dengan baik, dan menggunakan metode yang efektif untuk menyampaikan
materi kepada seluruh siswa. Dengan demikian, guru dapat berkembang dalam hal
pengelolaan kelas yang lebih kompleks. (4) peningkatan kolaborasi antar siswa.
Pembelajaran kelas rangkap juga dapat mendorong terjadinya kolaborasi antar
siswa dari kelas yang berbeda dalam peroses pembelajaran. Dalam model ini,
siswa dapat bekerja sama dalam suatu proyek atau tugas kelompok, yang
memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar dari satu sama lain.
Kolaborasi ini tidak hanya membantu siswa belajar secara lebih efektif, tetapi
juga mengajarkan keterampilan sosial yang penting, seperti komunikasi dan
kerjasama tim. (5) menumbuhkan fleksibilitas pembelajaran. Model pembelajaran
kelas rangkap memberi fleksibilitas yang lebih besar dalam mengelola materi
pembelajaran. Guru dapat menyesuaikan teknik pengajaran dengan kondisi dan
kebutuhan kelas yang berbeda, serta mengintegrasikan pembelajaran yang lebih
berbasis pada praktik. Dengan fleksibilitas ini, siswa dapat memperoleh
pengalaman belajar yang lebih kaya meskipun berada dalam situasi yang tidak
biasa.
Tantangan dalam Implementasi Model Pembelajaran Kelas Rangkap
Meskipun model pembelajaran kelas rangkap
memiliki banyak manfaat, terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya.
Beberapa tantangan tersebut antara lain: (1) kesulitan dalam pengelolaan
waktu. Mengelola dua atau lebih kelas sekaligus merupakan tantangan besar bagi
guru, terutama dalam hal pengelolaan waktu. Guru harus dapat membagi perhatian
secara adil antara kelas-kelas yang diajar, dan setiap kelas harus mendapatkan
waktu yang cukup untuk pembelajaran. Selain itu, ruang kelas yang terbatas
bisa menjadi hambatan dalam mengelola lebih dari satu kelompok siswa. (2)
perbedaan kemampuan siswa. Perbedaan kemampuan antara siswa di kelas yang
berbeda juga bisa menjadi tantangan besar dalam model pembelajaran kelas
rangkap. Siswa dengan kemampuan yang berbeda membutuhkan pendekatan yang
berbeda pula. Mengelola perbedaan ini agar semua siswa mendapatkan
pembelajaran yang optimal memerlukan keterampilan mengajar yang sangat tinggi.
(3) keterbatasan Fasilitas dan Sumber Daya. Sumber daya yang terbatas, baik
itu fasilitas fisik seperti ruang kelas atau fasilitas teknologi, juga menjadi
kendala dalam implementasi model ini. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai,
seperti penggunaan teknologi pembelajaran, model pembelajaran kelas rangkap
akan sulit diterapkan dengan efektif.
Tantangan dan Hambatan dalam Penerapan Model Pembelajaran Kelas Rangkap
Dalam penerapan model pembelajaran kelas
rangkap, terdapat berbagai tantangan dan hambatan yang harus dihadapi oleh
guru, sekolah, dan bahkan sistem pendidikan secara keseluruhan. Meskipun
memiliki banyak manfaat, tidak sedikit kendala yang muncul dalam praktik di
lapangan. Beberapa tantangan tersebut meliputi kurangnya kompetensi guru,
fasilitas dan insfrastruktur, dan stigma masyarakat terhadap model kelas
rangkap.
Siswa dengan kemampuan yang
berbeda-beda merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dalam
penerapan model pembelajaran kelas rangkap. Setiap siswa memiliki tingkat
pemahaman yang berbeda terhadap materi yang diajarkan, sehingga guru harus
dapat menyesuaikan metode pengajaran agar bisa menjangkau semua siswa dengan
cara yang efektif. Misalnya, siswa yang lebih cepat memahami materi mungkin
merasa bosan jika materi yang diajarkan terlalu lambat, sedangkan siswa yang
lebih lambat memerlukan waktu lebih banyak untuk memahami konsep yang
diajarkan. Oleh karena itu, guru perlu memiliki keterampilan dalam
menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kecepatan belajar masing-masing
siswa.
Dalam hal ini, strategi
diferensiasi dalam pembelajaran dapat sangat membantu. Sebagai contoh, guru
dapat membagi siswa ke dalam kelompok berdasarkan kemampuan mereka dan
memberikan tugas yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Hal ini
membutuhkan kreativitas dan kemampuan pengelolaan yang sangat baik dari guru
untuk memastikan bahwa setiap siswa tetap merasa terlibat dan mendapatkan
pembelajaran yang bermakna.
Keterbatasan
fasilitas dan infrastruktur di banyak sekolah dasar juga menjadi hambatan
utama dalam implementasi model pembelajaran kelas rangkap. Tidak semua sekolah
memiliki ruang kelas yang memadai untuk menampung lebih dari satu kelas dalam
satu ruang. Selain itu, teknologi yang diperlukan untuk mendukung
pembelajaran, seperti komputer atau perangkat pembelajaran digital, seringkali
tidak tersedia atau tidak memadai di banyak daerah.
Beberapa sekolah, terutama di daerah pedesaan atau terpencil, kekurangan
sarana dan prasarana yang memadai, yang mengakibatkan pembelajaran menjadi
kurang efektif. Misalnya, tanpa adanya media pembelajaran yang baik atau
teknologi yang memadai, siswa mungkin kesulitan untuk mendapatkan materi yang
dibutuhkan secara mandiri. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa
sekolah memiliki fasilitas yang memadai dan mampu mendukung pelaksanaan model
pembelajaran ini.
Guru yang belum
memiliki pengalaman atau keterampilan dalam mengelola kelas rangkap juga bisa
menghadapi kesulitan besar. Mengajar lebih dari satu kelas sekaligus
memerlukan keterampilan manajerial yang tinggi, seperti pengaturan waktu,
penggunaan ruang kelas secara efektif, serta kemampuan untuk memberikan
perhatian yang adil kepada seluruh siswa. Guru harus mampu mengelola berbagai
kelompok siswa dengan cara yang efisien tanpa mengurangi kualitas
pembelajaran.
Guru perlu diberikan
pelatihan yang memadai dalam hal manajemen kelas dan penerapan model
pembelajaran kelas rangkap. Pelatihan ini tidak hanya mencakup teknik
pengajaran, tetapi juga keterampilan dalam menggunakan teknologi dan mengatasi
masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran kelas rangkap. Pelatihan ini
dapat diberikan melalui workshop, seminar, atau bahkan sesi pembelajaran
berbasis kolaboratif antara guru yang berpengalaman dan guru lainnya.
Meskipun model pembelajaran kelas rangkap memiliki potensi yang besar,
terdapat stigma negatif terhadap model ini, terutama di kalangan guru dan
masyarakat. Beberapa orang mungkin merasa bahwa pembelajaran kelas rangkap
tidak seefektif pembelajaran tradisional yang hanya melibatkan satu kelas
dengan satu guru. Ada kekhawatiran bahwa kualitas pembelajaran akan menurun
jika guru harus mengelola dua kelas sekaligus, yang pada akhirnya berdampak
pada hasil belajar siswa.
Untuk mengatasi
stigma ini, perlu dilakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada para guru, orang
tua, dan masyarakat mengenai manfaat dan efektivitas pembelajaran kelas
rangkap. Menunjukkan bukti-bukti bahwa model ini dapat memberikan hasil yang
positif, dengan catatan bahwa implementasinya dilakukan dengan benar, akan
membantu mengubah pandangan negatif tersebut.
Strategi Pengelolaan Kelas Rangkap yang Efektif
Untuk memastikan bahwa model pembelajaran kelas
rangkap dapat diterapkan dengan baik dan memberikan hasil yang optimal,
beberapa strategi pengelolaan perlu diterapkan, seperti guru membuat
perencanaan pembelajaran yang cermat, penggunaan teknologi pembelajaran yang
tepat guna, menggunakan pendekatan pembelajaran diferensiasi yang di-manage
dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan setiap siswa semisal dengan
memberikan tugas atau proyek yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa,
pengelolaan kelas yang efektif salah satu caranya dengan menggunakan sistem
rotasi, di mana siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan bekerja pada
tugas yang berbeda secara bergantian. Selain hal-hal tersebut, penting bagi
guru untuk menjaga komunikasi yang baik dengan siswa, memberikan umpan balik
secara rutin, dan menjaga suasana kelas yang positif dan kondusif untuk
belajar.
Peluang Pengembangan Model Pembelajaran Kelas Rangkap di Masa Depan
Meskipun model pembelajaran kelas rangkap
sudah diterapkan di beberapa sekolah dasar, masih banyak potensi yang dapat
dikembangkan untuk meningkatkan efektivitasnya. Salah satu peluang besar
adalah integrasi teknologi pendidikan yang semakin berkembang. Misalnya,
penggunaan pembelajaran berbasis aplikasi atau sistem manajemen kelas berbasis
cloud dapat membantu guru untuk mengelola kelas rangkap dengan lebih efisien
dan fleksibel.
Selain itu, penting untuk
terus melakukan riset mengenai pengaruh model pembelajaran kelas rangkap
terhadap hasil belajar siswa. Dengan adanya data dan bukti yang jelas mengenai
keefektifan model ini, sekolah-sekolah di daerah dengan kekurangan guru dapat
lebih mudah mengadopsi model ini dan memperoleh manfaat yang maksimal.
Referensi
-
Depdiknas. (2010). Pedoman Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
-
Hasan, M. (2019). Manajemen Kelas untuk Pembelajaran yang Efektif.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
-
Maulana, R. (2020). Kebijakan Pendidikan dalam Mengatasi Kekurangan Guru:
Pembelajaran Kelas Rangkap. Jurnal Kebijakan Pendidikan, 9(2), 44-53.
-
Kurniawan, D. (2021). Efektivitas Pembelajaran Kelas Rangkap di Sekolah
Dasar. Jurnal Riset Pendidikan, 8(2), 112-120.
-
Lestari, I. (2019). Model Pembelajaran Kelas Rangkap di Daerah Terpencil.
Jurnal Pendidikan danTeknologi, 6(1), 34-45.
-
Pratiwi, N. (2022). Tantangan dan Solusi dalam Pembelajaran Kelas Rangkap.
Jurnal Ilmu Pendidikan, 7(3), 67-75.
-
Rahmawati, S. (2019). Pengaruh Pembelajaran Kelas Rangkap terhadap Hasil
Belajar Siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan, 12(1), 23-34.
-
Setiawan, B. (2021). Inovasi Pembelajaran di Sekolah Dasar: Pembelajaran
Kelas Rangkap. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, 1, 78-85.
-
Widiastuti, R. (2020). Pembelajaran Kelas Rangkap: Solusi untuk Kekurangan
Tenaga Pendidik. Jurnal Pendidikan Dasar, 10(4), 90-102.
-
Wibowo, A. (2018). Model Pembelajaran Kelas Rangkap dalam Pendidikan
Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 2(3), 112-118.